DevOps Expert | Haproxy – High Performance Load Balancer Server

haproxy load balancer server

Kapan Anda harus menggunakan Haproxy?

Ketika ribuan pengguna mengakses situs atau aplikasi web ataupun sejenisnya pada waktu bersamaan, sehingga trafic yang tinggi yang membuat server anda overload (down) karena tidak dapat menampung request yang diterima, maka haproxy dapat menjadi solusi bagi anda.

Bayangkan kalo anda cuma punya 1 server yang dipakai untuk menangani semua request yg sudah terlanjut buanyaaak bgt… disisi lain spec server sudah mentok g bisa di upgrade lagi. sudah tidak memungkinkan untuk vertical scaling. maka sudah saat nya untuk melakukan horisontal scaling. yap… dengan Haproxy kita dapat membuat horisontal scaling untuk menghajar mengatasi trafic yang tinggi.

Teknik ini dikenal dengan load balancing. Jadi load balancing adalah teknik untuk melakukan distribusi beban trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang sehingga setiap jalur koneksi akan menerima beban trafik yang sama. yap begitulah cara kerja load balancing.

Apa itu Haproxy?

HAProxy adalah project open source dibawah GPLv2 license. Haproxy atau kepanjangan dari High Availability Proxy adalah loadbalancer TCP/IP dan proxy server yang dapat membagi beban request yang datang kepada multi node server. sehingga beban server akan dibagi kepada node server yang ada.

Pembagian beban nya pun bermacam-macam cara ada yang sama rata, ada yang berdasarkan beban trafic dan lain nya. akan kita pelajari algoritma pembagian beban request  ini selanjutnya. Jadi haproxy ini adalah perantara antara client/user dengan server (web/database/dll) sehingga disebut juga dengan haproxy reverse proxy.

Haproxy tidak hanya bisa untuk web load balancing namun juga yang lain seperti smtp load balancing atau mysql load balancing.

Bagaimana cara kerja Haproxy?

Load balance pada web server dapat dilakukan dengan 2 macam yaitu pada Layer 4 (transport layer) dan Layer 7 (application layer). Layer 4 lebih sederhana karena pembagian hanya berdasarkan range IP dan port. Pada layer 7 pembagian lebih kompleks sampai pembagian trafic berdasarkan url tertentu, dsb.

User akan mengirimkan request kepada load balancer (haproxy) kemudian diteruskan (forward) ke node (web server) lain. Teknik load balancing yang sering digunakan adalah roundrobin dan least connection. RoundRobin adalah cara yang menganggap bahwa semua beban server sama, jadi setiap server yang ada di akses secara bergantian dan berurutan, sedangkan Least Connection hanya mengalihkan beban ke server yang dianggap kosong atau trafficnya rendah.

di dalam haproxy terdapat 2 bagian (side) yakni frontend dan backend. koneksi yang datang dari user akan di terima oleh bagian frontend untuk di olah/filter sesuai rule frontend, jika lolos maka paket di lanjutkan ke backend untuk di oleh/filter sesuai rule backend selanjutnya akan di putuskan untuk kirim ke node tertentu sesuai strategi yang di pakai backend. Jadi frontend hanya mengurusi client/users dan backend mengurusi node server.
haproxy ada 2 mode dalam operasinya yakni HTTP close mode dan HTTP keep-alive mode.

Mengapa harus Haproxy?

Sebenarnya untuk melakukan load balancing trafic pada server ada beberapa alternative lain seperti Nginx, LVS / IPVS, varnish, dll. Namun haproxy memang khusus dibuat untuk keperluan ini, mature, reliable dan high performance. Disamping dia mempunyai fitur-fitur pendukung lain tentunya.

Haproxy hanya menggunakan 15% dari processing time penggunaan CPU dengan HTTP close mode dan sekitar 30% jika menggunakan HTTP keep-alive mode. Itu artinya secara global haproxy mempunyai impact yang besar dalam performa namun kecil dalam penggunaan resource.

Dengan load balancing maka yang akan menerima request tidak hanya 1 server, sehingga mempercepat waktu response sebuah web. 1 web server dapat menerima banyak request, sedangkan 1 server biasanya kita memiliki 1 web server, bayangkan saja jika kita mempunyai 3 dan masing – masing server mempunyai 1 web server maka waktu response sebuah web akan meningkat 3 kali lipat. Kesimpulan nya dengan haproxy dapat mempercepat waktu reponse sebuah web (fast response).

Karena adanya server yang lebih dari 1, hal ini memungkinkan ketika salah 1 server mati request tetap dapat di layani dengan server lain. jadi lebih reliable.

Ada beberapa variasi dalam penggunaannya haproxy diantaranya ada yang berfokus pada bandwidth, atau berdasarkan request rate, atau koneksi yang konkuren, atau pada kinerja SSL. Fitur-fitur yang ada disediakan untuk membantu tugas haproxy dalam mengendalikan trafic. Contohnya nanti akan kita bahas dalam haproxy configuration.

Fitur Basic

Proxying : menjembatani koneksi dari client dan server.
SSL : haproxy ssl support secure sockets layer (https)
Monitoring : termonitor secara terus menerus dan tercatat
High availibility : walaupun 1 atau beberapa web server mati masih tetap terkoneksi
Load balancing : beban trafik yang terbagi sama rata atau sama rasa
Stickiness : aliran data/paket yang melekat pada aturan/rule yang di setting
Sampling and converting information : pengelompokan dan rekap data dari paket yang lewat
Map : membuat simple rule untuk setting frontend dan backend
ACLs dan Conditions : haproxy acl mengatur trafic dengan rule dan condition
Stick-tables
Formatted strings
HTTP rewriting and redirection
Server protection
Logging : terdapat haproxy log file untuk maintenance
Statistics : data statistic untuk monitoring trafic

Fitur Advance

Management
System-specific capabilities
Scripting : HAProxy support Lua embedded language

Persiapan Installasi dan Konfigurasi

Kali ini kita akan gunakan 3 server  VPS dengan OS terinstall ubuntu 18.04
1 server sebagai load balancer dengan haproxy
2 server sebagai web server dengan nginx

server haproxy kita beri nama haproxy.qodrbee.com
web server kita beri nama web1.qodrbee.com dan web2.qodrbee.com
berikut konfigurasinya :

haproxy.qodrbee.com

ip public : 10.20.30.40 open port 80 # terhubung ke internet/user
ip private : 192.168.1.1/24 #terhubung dengan private web server

web1.qodrbee.com

ip private : 192.168.1.2/24 #terhubung dengan haproxy.qodrbee.com

web2.qodrbee.com

ip private : 192.168.1.3/24 #terhubung dengan haproxy.qodrbee.com

persiapan haproxy load balancer server

okey itu tadi adalah persiapan kita (persiapan mental dan kesabaran :v) sebelum memulai instalasi dan konfigurasi haproxy.
Selanjutnya kita coffe break dulu agar kembali fresh dan fokus. 10menit…
10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1..
oke break habis kita lanjutkan tahap instalasi dan konfigurasi.

kalau sudah sampai sini anda wajib share tulisan ini.
agar (banyak pengunjung di web saya) manfaatnya lebih tersebar ke yang lain.

tanpa basa bali klik disini untuk menuju babak baru dalam haproxy.
HAProxy installation and configuration
jeng jeng jeng…..

Referensi :

How to Native Image Lazy Loading for Web

Native Lazy Loading Image for Web

native lazyload image for web

yess… native lazy load image for web. coba lihat script di atas… ada attribut loading pada tag img. Selama ini kita kalo mau melakukan lazy loading kita pake plugin kan? jQuery kan? … nah ini nih ada cara native loh…
dan ini berlaku untuk tag img dan iframe.

loading attribute ini akan bekerja ketika halaman di scroll ke img atau frame yang memakai loading ini. loading support 3 value :

  1. lazy: ini untuk lazy loading.
  2. eager: load langsung.
  3. auto: browser yang akan menentukan lazy load atau tidak.

jika tidak ada attribute loading maka dianggap auto. Berikut adalah contoh script nya..

<!-- Lazy-load an offscreen image when the user scrolls near it -->
<img src="unicorn.jpg" loading="lazy" alt=".."/>

<!-- Load an image right away instead of lazy-loading -->
<img src="unicorn.jpg" loading="eager" alt=".."/>

<!-- Browser decides whether or not to lazy-load the image -->
<img src="unicorn.jpg" loading="auto" alt=".."/>

<!-- Lazy-load images in <picture>. <img> is the one driving image 
loading so <picture> and srcset fall off of that -->
<picture>
  <source media="(min-width: 40em)" srcset="big.jpg 1x, big-hd.jpg 2x">
  <source srcset="small.jpg 1x, small-hd.jpg 2x">
  <img src="fallback.jpg" loading="lazy">
</picture>

<!-- Lazy-load an image that has srcset specified -->
<img src="small.jpg"
     srcset="large.jpg 1024w, medium.jpg 640w, small.jpg 320w"
     sizes="(min-width: 36em) 33.3vw, 100vw"
     alt="A rad wolf" loading="lazy">

<!-- Lazy-load an offscreen iframe when the user scrolls near it -->
<iframe src="video-player.html" loading="lazy"></iframe>

dan tahukan saudara-saudara bahwa fitur ini direncanakan akan support di chrome 75. itu kata bang Addy Osmani sebagai Engineering Manager at Google working on Chrome. Jadi sabar saja ya… tunggu tanggal main nya di qodrbee ya. cheers… ;p

referensi  https://addyosmani.com/blog/lazy-loading/

Incoming search terms:

[Penjurusan] Silabus School of Startup

  • Penjurusan 1bulan
    • Pengenalan diri
    • Deteksi Minat & bakat
  • Hustler9bulan
    • Leadership
    • Visioner
    • Ide Kreatif
    • Pitching
    • Networking
    • Manajemen & Keuangan
    • Marketing
  • Hipster 9bulan
    • Intro UI/UX Design
    • UX Design 3bulan
      • Dasar-Dasar UX Design
      • Design Sprint
      • Persona atau Customer Segmentation
      • Prototyping
      • User Research
      • UX Parameter
      • Simplicity
      • Addictive App
      • Behavioral Economics
      • Ideation
    • UI Design 3bulan
      • Research
      • Sketch & Wireframe
      • Design & Prototyping
      • Usability Testing
      • Evaluate
      • Implementation
    • StartUp Case 3bulan
  • Hacker 9bulan
    • Frontend Dev 2bulan
      • HTML
      • CSS
      • JS
      • ReactJS
    • Backend Dev 2bulan
      • Algoritma & Pemrograman
      • PHP & OOP
      • Database
      • PHP Framework
    • Mobile Dev 2bulan
      • React Native
    • StartUp Case 3bulan

[Hipster] Silabus School of Startup

  • Penjurusan 1bulan
    • Pengenalan diri
    • Deteksi Minat & bakat
  • Hustler9bulan
    • Leadership
    • Visioner
    • Ide Kreatif
    • Pitching
    • Networking
    • Manajemen & Keuangan
    • Marketing
  • Hipster 9bulan
    • Intro UI/UX Design
    • UX Design 3bulan
      • Dasar-Dasar UX Design
      • Design Sprint
      • Persona atau Customer Segmentation
      • Prototyping
      • User Research
      • UX Parameter
      • Simplicity
      • Addictive App
      • Behavioral Economics
      • Ideation
    • UI Design 3bulan
      • Research
      • Sketch & Wireframe
      • Design & Prototyping
      • Usability Testing
      • Evaluate
      • Implementation
    • StartUp Case 3bulan
  • Hacker 9bulan
    • Frontend Dev 2bulan
      • HTML
      • CSS
      • JS
      • ReactJS
    • Backend Dev 2bulan
      • Algoritma & Pemrograman
      • PHP & OOP
      • Database
      • PHP Framework
    • Mobile Dev 2bulan
      • React Native
    • StartUp Case 3bulan

[Hustler] Silabus School of Startup

  • Penjurusan 1bulan
    • Pengenalan diri
    • Deteksi Minat & bakat
  • Hustler9bulan
    • Leadership
    • Visioner
    • Ide Kreatif
    • Pitching
    • Networking
    • Manajemen & Keuangan
    • Marketing
  • Hipster 9bulan
    • Intro UI/UX Design
    • UX Design 3bulan
      • Dasar-Dasar UX Design
      • Design Sprint
      • Persona atau Customer Segmentation
      • Prototyping
      • User Research
      • UX Parameter
      • Simplicity
      • Addictive App
      • Behavioral Economics
      • Ideation
    • UI Design 3bulan
      • Research
      • Sketch & Wireframe
      • Design & Prototyping
      • Usability Testing
      • Evaluate
      • Implementation
    • StartUp Case 3bulan
  • Hacker 9bulan
    • Frontend Dev 2bulan
      • HTML
      • CSS
      • JS
      • ReactJS
    • Backend Dev 2bulan
      • Algoritma & Pemrograman
      • PHP & OOP
      • Database
      • PHP Framework
    • Mobile Dev 2bulan
      • React Native
    • StartUp Case 3bulan

sukses
-keputusan
-keyakinan
-berubah
–perubahan konstan
—1.upgrade standar
—2.yakin bisa membuhi standar
—3.ubah strategi atau cari mentor
–setiap kejadian selalu memilih berpikir positif
–membuka diri untuk belajar dia bisa berubah
-cari cara untuk solusi bukan alasan
-ganti kaya tapi dengan kata dan
-masalah besar/kecil itu tergantung masalah itu bertemu dengan siapa?

keahlian itu harus spesialis
pengetahuan itu generalis

step from zero to hero
1.inocent – manusia biasa
2.the call – manusia menemukan panggilan
3.ujian – pasti diuji
4.partner – menemukan sekutu
5.celebration

error
sifat impian dan syarat perubahan sama

[tutorial] BAB 1 Persiapan CRUD pada Framework Laravel dan VueJS

crud laravel vuejs

Persiapan

Setelah kita mulai mempelajari suatu bahasa pemrograman tentang konsep, fundamental dan basic nya maka saatnya kita praktek lebih dalam praktek teknis pembuatan aplikasi yang sederhana. Suatu aplikasi hampir dipastikan ada aksi-aksi seperti

  • Create – menambah data
  • Read – membaca dan menampilkan data
  • Update – meng-edit dan update data
  • Delete – menghapus data

Aksi-aksi tersebut sering dan sudah biasa disebut dengan CRUD. Namun kali ini kita akan belajar praktek dari 0 (from scratch) membuat CRUD plus dengan Search, Pagination dan Report (laporan).

Teknologi yang akan kita pelajari dan praktekan diantaranya adalah

  • Xampp – Bundling Web server (apache2), DB server (Mysql) di local komputer kita
  • Composer – package manager
  • Framework Laravel – easily and quickly PHP framework based on MVC design pattern
  • Blade Template Engine – default bawaan laravel
  • Mysql Database – database sejuta umat
  • Framework VueJS – framework JS
  • Vue Router – agar vueJS lebih mudah
  • Axios – untuk menghadle http request
  • Ajax Request – agar http request lebih nyaman dan cepat
  • Html Form, table dll – view html

Kita asumsikan OS yang dipakai adalah windows. Pada tahap persiapan ini yang perlu kita lakukan diantaranya adalah

  1. Instalasi Xampp
  2. Instalasi Composer
  3. Instalasi Laravel
  4. Integrasi VueJS
  5. Menyusun relasi database

karena kita mau menggunakan laravel maka kita perlu ketahui dulu requirement dari versi laravel yang akan kita install. Kita akan menggunakan laravel versi 5.7.
Update fitur laravel versi 5.7 diantaranya

  • Securing Laravel APIs with Auth0
  • Laravel Dump Server Integration
  • Laravel Nova
  • Guest User Gates / Policies
  • Email Verification
  • Optional Email Verification
  • URL Generator & Callable Syntax
  • Paginator
  • Improved Error Messages
  • Testing Artisan Commands

kemudian requirement untuk laravel 5.7 adalah

  • PHP >= 7.1.3
  • OpenSSL PHP Extension
  • PDO PHP Extension
  • Mbstring PHP Extension
  • Tokenizer PHP Extension
  • XML PHP Extension
  • Ctype PHP Extension
  • JSON PHP Extension
  • BCMath PHP Extension

1. Instalasi XAMPP

Setelah kita mengetahui requirement Laravel maka kita perlu memilih versi Xampp yang mendukung requirement tersebut. Kita pilih xampp versi 7.2.17.
untuk detail tahap ini kita lanjutkan di sub bab berikutnya yakni installasi xampp di link ini

DevOps Expert | apa dan bagaimana Google CLoud Platform (GCP) ?

google cloud platform gpc adalah
Google Cloud Platform atau disingkat GCP adalah layanan dari google tentang public cloud computing yang terdiri dari beragam layanan. diantara layanan nya adalah

  • Google Compute Engine
  • Google App Engine
  • Google Cloud Storage
  • Google Container Engine

Google Cloud Platform Service dapat diakses oleh software developer, DevOps, Sys admin dan profesional IT lainnya menggunakan piblic internet  atau melalui koneksi jaringan dedicated lain nya.
Lalu apa dan bagaimanakah GCP serta layanan-layanan nya?
ikuti event seminar gratis dari Cloud Ace berikut :

Topik Seminar :

– Pengenalan GCP
– Perbedaan antara GCP, AWS & Azure
– Demo GCP
– Sesi Q & ATanggal : 11 April 2019
Pukul : 10:00-12:00
Tempat : Horaios Malioboro Hotel
Jalan Gowongan Kidul No. 57, Gedongtengen, Yogyakarta, Yogyakarta Province, Indonesia, 55271
E-mail : id@cloud-ace.com

google cloud platform gpc adalah

klik disini untuk pendaftaran

[Compare] Berbedaan dan Perbandingan Flutter vs React Native

flutter vs react native

2017 Dunia Coding di hebohkan dengan rilisnya bahasa baru dari google. Bahasa untuk men-develop aplikasi mobile multi platform Android dan IOS. FLUTTER ikut meramaikan kancah persaingan antar bahasa pemrograman di platform mobile device. Dengan sekali coding hasilnya dapat berjalan di android dan IOS.
Tentu setiap framework mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada ulasan kali ini kita bahas tentang Flutter dan React Native yang notabene sedang popular dan banyak dipakai.

1. Vendor Developer

Seperti yang kita tahu bersama bahwa 2 framework ini di develop oleh 2 raksasa yakni Flutter oleh Google dan React Native oleh Facebook. Sangat menjanjikan.

2. Initial Release

React Native rilis tahun 2015 otomatikeli dia lebih tua dan sewajarnya lebih banyak pengalaman nya. Sedangkan Flutter 2017, walaupun baru kemaren namun perkembangan nya bisa dibilang pesat.

3. Language

Javascript adalah bahasa yang dipakai React Native. Ini menjadi poin plus tersendiri karena javascript sudah dikenal sejak lama dan banyak yang menguasai sehingga tidak membutuhkan waktu lama dalam mempelajarinya. Sedangkan Flutter menggunakan Dart, bahasa baru yang mudah digunakan bagi developer yang terbiasa dengan OOP seperti C++ dan Java.

4. Learning Curve

React Native sepertinya mendapat poin plus untuk ini karena menggunakan javascript sebagai base nya.

5. Platform

Sama2 multi platform. draw

6. Simulator

Sama2 punya hot reload yang memungkinkan untuk live coding melihat hasil nya.

7. Reusable Code

Flutter membuat developer menjadi mudah karena dapat melakukan reuse existing code. Sedangkan pada React Native meskipun dapat reusable code namun lebih mudah di Flutter

8. Code Style

Flutter dikenal dengan simplicity nya. Sedangkan React Native dikenal dengan Ready to Use componen nya.

9. Development Time

Tergantung developer, Flutter dengan simplicity dan reuse code nya. React Native dengan ready to use library nya.

10. Stability

Karena Flutter lahirnya kalah cepet ya wajar kalo React Native lebih stabil.

11. Performance

Nah, Flutter ini direct component to device loo. Sedangkan React Native pake layer javascript.

12. Library

Sama sama Banyak

13. Time to Reach Market

Tergantung developer juga. Flutter cocok buat  prototyping. React Native cocok buat longterm karena lebih stabil dan mature

14. Popularity

Otomatis React Native lebih populer wong lahir duluan. Namun Flutter sudah hampir menyusul loo.

15. Community

Kalo sekarang banyakan React Native

16. Documentation

Flutter Rapi dan update jadi bagi developer pemula mudah belajar. Sedangkan react kurang terorganisir tapi up to date.

17. Used By

Sama sama dipakai perusahaan-perusahaan besar.

Berikut ringkasan komparasi dari 2 jawara mobile apps builder framework.

Flutter83Faktor87React Native
Google
5
Developers
5
Facebook
2017
4
Initial Release
6
2015
Dart
5
Language
5
JavaScript
Need learning Dart
4
Learning Curve
6
Famous Javascript
Android and iOS
5
Platform
5
Android and iOS
Stateful Hot Reload
5
Simulator
5
Hot Reload
Yes
6
Reusable Code
4
Reuse but restrict few component
Simplicity
6
Code Style
4
More Strict
More time, but reusable code
4
Dev Time
6
Ready to use component
Trying to Stable
4
Stability
6
Mature, older
Direct with native component
6
Performance
4
Use Javascript Layer
Many
5
Library
5
Many
Fast, Cocok untuk protitype
5
Time to Reach Market
5
Longterm lebih matur
60k github
4
Popularity
6
76k github
fast growt
4
Community
6
Large already
Rapi dan up to date
6
Documentation
4
Kurang rapi tapi up to date
Alibaba, Reflectly, Tencent, Hamilton Musical, Google Greentea, JD Finance, Abbey Road Studios, etc
5
Used By
5
Facebook, Oculus Go VR Headset, Instagram, Pinterest, Uber, Tesla, Walmart, Wix.com, Baidu, Artsy, etc

referensi :

Top 11 Fitur Baru di Ubuntu 19.04 Disco Dingo

Hi gaess, tau g ubuntu 19.04 rilis kemaren lo…. tepatnya tanggal 18 April 2019. Berita super buat para pecinta linux terkhusus ubuntu, distro seribu umat.. hihi.

Ubuntu 19.04 codename Disco Dingo rilis tentunya bukan tanpa apa2, namun ada sesuatu yang wow dan baru dan pembaruan. Simak video berikut ini untuk melihat fitur apa aja yang cool abizzz.. hehe

Sudah liat video nya? coba kita bredel one by one top fitur nya.

1. Default Wallpaper

wallpaper ubuntu 19.04

yang pengen download klik tombol ini ya gaes

2. The default Yaru theme supports lebih banyak aplikasi

Salah satu fitur utama Ubuntu 18.10 adalah tema default baru yang mengkilap bernama Yaru. Namun, tema tersebut tidak mendukung ikon untuk sejumlah aplikasi pihak ketiga. Ikon reguler dari aplikasi ini tidak menyatu dengan tema lainnya.

Nah, Yaru sekarang diperluas dan mendukung lebih banyak aplikasi pihak ketiga. Seperti yang dapat Anda lihat pada gambar di bawah ini, semuanya terlihat jauh lebih cantik sekarang:

ubuntu 19.04 yaru themes

3. GNOME 3.32

GNOME 3.32 adalah default desktop environment di Ubuntu 19.04. Sementara GNOME 3.32 memiliki banyak fitur baru, Anda tidak akan mendapatkan semuanya dalam versi khusus GNOME yang disediakan oleh Ubuntu.

Sebagai contoh, fractional scaling untuk fitur HiDPI dari GNOME 3.32 masih tersembunyi di Ubuntu 19.04. Peningkatan GNOME juga tidak ada di Ubuntu Software Center. Ikon dan tema jelas diganti oleh Yaru kustom themes Ubuntu sendiri.

Ubuntu 19.04 mempertahankan beberapa fitur dari versi GNOME sebelumnya seperti global app menu. Beberapa fitur lain sebenarnya dari GNOME 3.32.

4. Application permission control

Jika Anda menggunakan smartphone Android / iOS, Anda mungkin mengetahui per-application based permission control. GNOME 3.32 membawa kontrol ini ke desktop Ubuntu.

Anda dapat melihat aplikasi mana yang memiliki akses ke resource apa pada sistem Anda. Anda dapat mengizinkan(allow) atau menolak (deny) akses ke resource tertentu.

ubuntu 19.04 application permission control

5. Sedikit improvements pada Terminal app

Ada beberapa perubahan kecil pada tampilan terminal default di Ubuntu 19.04. Opsi tab baru lebih menonjol dengan tombol pencarian.
ubuntu 19.04 terminal improvement

6. Live patching gets the highlight

Ubuntu baru-baru ini memperluas opsi tambalan langsung ke pengguna desktop. Dengan patch langsung, Anda tidak perlu me-restart sistem Anda setelah update kernel.

Anda dapat mencarinya opsi live patching disorot di Ubuntu 19.04 pada menu tab khusus di software & update.
ubuntu 19.04 live patch

7. Granular control on the Night Light

Night Light bukan fitur baru di desktop GNOME. Namun, sekarang Anda dapat menyesuaikan ‘warmness‘ atau intensitas night light sesuai keinginan Anda.
ubuntu 19.04 night light

8 .Revamped audio settings

setting audio lebih fresh

ubuntu 19.04 audio setting

9. Linux Kernel 5.0

Ubuntu 19.04 menggunakan Linux Kernel 5.0 harapannya dukungan terhadap hardware lebih baik terutama pada graphics card.

10. Mesa 19.0

Kabar gembira bagi AMD users, Open Source graphics library Mesa naik versi 19 di Ubuntu 19.04. Monggo dicoba

11. Under the hood performance improvement

Peningkatan di Ubuntu 19.04 mungkin tidak dapat Anda lihat namun pasti dapat anda merasakan. Scrolling dan window snapping lebih halus. File di indeks (indexing) jadi pencarian file dalam pencarian GNOME lebih cepat sekarang.

Upgrade to Ubuntu 19.04

Pertama tama, periksa versi Ubuntu yang Anda gunakan. Jika Anda menggunakan Ubuntu 18.10 Cosmic Cuttlefish, Update ke Ubuntu 19,04 pastikan koneksi internetnya baik. Ubuntu 18.10 rilis jangka pendek dan akan berakhir pada Juli 2019 jadi segera upgrade ke 19.04

Ubuntu 19.04 adalah rilis dengan dukungan jangka pendek dan akan didukung hingga Januari 2020. Jika Anda menggunakan Ubuntu 18.04 LTS yang akan didukung hingga 2023, Anda harus melewati rilis ini. Anda tidak dapat update langsung ke 19.04 dari 18.04. Anda harus update ke 18.10 pertama lalu ke 19,04. Itu memakan waktu dan tidak disarankan untuk melompat dua versi seperti ini. Anda dapat menginstal ulang Ubuntu dan mengganti 18.04 dengan 19.04.

Karena 19.04 masih beta dalam pengembangan, disarankan jangan di gunakan dulu di mesin production lebih baik di Virtualbox atau VMWare.

Download Ubuntu 19.04 sekarang